Sekitar 5 tahun
yang lalu dalam program TFCA (Lembaga NGO), dari lembaga bersinergi dengan
lembaga lingkungan SUMUT untuk melakukan pendampingan terhadap petani-petani
desa Mandailing julu melalui beberapa kelompok tani yang didomisili oleh petani
kopi. Di awali dengan belajar bersama dalam pembibitan hingga perawatan tanaman
kopi. Beliau bersama rekan-rekannya melakukan pembagian bibit kopi dan
pembukaan kebun untuk melakukan cocok tanam.
Yang menjadi masalah utamanya adalah masa panen kopi
yang bisa dibilang cukup lama, yaitu sekitar 1,8 tahun sampai 2 tahun. Timbul
pertanyaan yang kemudian dijadikan gagasan untuk tetap melangsungkan pelatihan
kepada para petani, yaitu dengan ditanamnya tanaman tumpang sari seperti cabai
dan kentang sebagai peralihan utuk mengisi waktu yang kosong.
Pascapanen, ternyata perbandingan gabah kopi yang
dijual dipasaran tidak sesuai perkiraan. Gabah kopi hanya dihargai Rp 18.000
sampai Rp 20.000/kg. Sementara di kafe-kafe sendiri, kopi Mandailing dijual Rp
15.000/gelas yang mengandung kopi sekitar 10 gr. 1 kg bubuk kopi sudah bisa
dibagi menjadi 100 gelas banyaknya, dan kalau dikalikan sudah menghasilkan uang
sebanyak Rp 1.500.000. Muncul pertanyaan baru, apa upaya yang bisa dilakukan
untuk menaikkan tingkat harga kopi?



Setelah berdiskusi akhirnya beliau dan rekan-rekan
memutuskan untuk menjual kopi dalam bentuk green bean sampai pada produk kopi
bubuk yang dikenal dengan “BANAMON” dan “KOPINTA”. Setelah dibukanya usaha
bersama rekan-rekan di koperasi dan KOPINTA, penjualan gabah kadar air 70 %
meningkat di kisaran Rp 28.000 sampai Rp 30.000, tetapi karna targetnya berada
pada kisaran Rp 38.000 sampai Rp 40.000, yang didalamnya juga terdapat hasil
bagi untuk petani yang seharusnya mendapatkan keuntungan yang lebih dari penjualan, maka dari sana
ditemukan gagasan baru untuk menciptakan produk kopi yang lebih bersahabat baik dari segi harga dan cita rasa. Dari 2,3 gram gabah basah
dengan kadar air 70 % seharga Rp 30.000, yang kalau dijadikan bubuk 1 kg gabah
itu sudah bisa dihargai sebesar Rp 75.000, dan setelah dijual lagi kepasaran
akan terjadi kenaikan harga juga bagi para petani yang bisa menaikkan harga
gabah kopi menjadi Rp 28.000 sampai Rp 32.000.


Tidak hanya sampai disana, produk pengolahan kopi yang
dipasarkan pun sudah beraneka macam. Yang awalnya hanya bentuk beans saja, kini sudah
diolah dalam bentuk rose bean dan bubuk. Yang dulunya hanya menggunakan proses
fullwash dengan gabah yang dikeringkan hingga kadar air 13 %, kemudian disortir
lagi sampai kualitas specialty, kini diolah lagi dengan pola proses pengolahan
kopi yang berbeda, seperti natural process, wine process, dan beer process,
yang tentunya memiliki tingakatan harga yang lebih besar sampai dengan Rp
200.000/kg.
Tidak hanya dalam bentuk gabah, tetapi juga mengolah
kopi dari bentuk biji merah yang dibeli pada para petani dengan harga Rp
10.000 sampai Rp 11.000/kg. kalau dihitung dengan gabah sama dengan Rp 34.000
sampai Rp 35.000/kg, terjadi lagi kenaikan harga yang dijualkan dengan
pengolahan yang berbeda. Begitupun petani, bisa menaikkan harga dalam penjulan
biji merahnya.
Selain dalam kemasan 200 gr, KOPINTA juga menyediakan
produk dalam bentuk 10 gr ataupun dijual/pcs dan cup dengan berbagai rasa yang
berbeda dari pola pengolahan yang beragam, seperti fullwash, semiwash,
peaberry, natural process, honey process, dan beer process.
2.2 Uraian Prestasi Narasumber Serta Kiat Sukses
“Bicara soal prestasi itu
relatif, kalau dari aspek pemerintah atau lembaga ya biasa saja, karena target
kita bukan itu”, tutur beliau. Beliau mengatakan bahwa 80 % ekonomi keluarganya
berpenghasilan dari kopi, dan bagi beliau itu sudah merupakan suatu prestasiyang
tak ternilai harganya.



Jangan cepat bosan, serta giat dalam menjalankan pelatihan yang
diselenggrakan oleh Pemerintah maupun pihak swasta. “Kopi selalu punya kejutan”
begitu kata beliau. Selalu ada ide-ide baru dalam pengembangan dan pengolahan
kopi, jadi jangan cepat merasa puas, belajar dan belajar.
2.1 Uraian Teknik dan Pendekatan Kreatif dalam
Menghadapi Wabah Covid-19
Dampak dari covid sendiri benar-benar terasa, karena
kafe-kafe yang berperan besar untuk pemesanan tidak melakukan pemesanan seperti biasanya, disebabkan adanya
social distancing yang mengakibatkan sepi pengunjung, sehingga mereka hanya memasok kopi jauh lebih kecil. Bahkan kafe-kafe yang melakukan pemesanan dari luar negeri sama sekali
tidak bisa melakukan distribusi diakibatkan pengiriman yang jauh dan bisa dibilang terhambat. Yang bisa dilakukan hanyalah menunggu situasi kembali normal dengan
terpaksa membanting harga untuk distribusi yang masih berjalan. Penjualan bisa
dikatakan menurun sebesar 70-80%, yang berdampak juga pada penjualan gabah
petani yang terpaksa harus diturunkan. Pada masa pandemik ini, distribusi
secara online lebih ditekankan, terlebih lagi karna masih ada peminat dan pembeli yang
tetap merespon kebutuhan kopi mereka.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1.
Pak
Sarfruddin Lubis menggeluti usaha kopi sejak 2016.
2. Diawali
dalam program TFCA (Lembaga NGO), dari lembaga bersinergi dengan lembaga
lingkungan SUMUT untuk melakukan pendampingan terhadap petani-petani desa
Mandailing julu Teknik pemasaran produk menggunakan Sistem Online melalui
WhatsApp, Instagram dan Website.
3. Inovasi
yang dilakukan dalam menghadapi wabah Covid-19 yaitu menurunkan sedikit harga
dan menekan distribusi secara online, melalui WhatsApp, Instagram dan Website.
4. Ulet,
rajin, telaten, jangan mudah merasa bosan, adalah pegangan dasar yang berperan
penting dalam memulai sebuah usaha.
3.2 Saran
Dalam melakukan sebuah usaha, pasti ada konsekuensi dan
berbagai macam persoalan yang harus kita hadapi. Tetap bekerja keras, ulet,
serius, serta jangan merasa cepat puas dalam melakukan sesuatu, adalah kunci
dasar yang berperan penting dalam melakukan wirausaha.
DAFTAR PUSTAKA
Alma, Buchari.
(2010). Kewirausahaan (edisi revisi). Bandung: CV Alfabeta.
Saiman, Leonardus. (2009). Kewirausahaan. Teori, Praktik, dan Kasus-kasus.
Jakarta. Salemba Empat.
Sarwono, Sarlito W.. (2011). Psikologi Remaja (edisi revisi). Jakarta:
Rajawali Pers
Lambing, Peggy & Kuehl, C.R. (2000). Entrepreneurship (2nd ed). New
Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Brown, Duane & Brooks, Linda. (1990). Career Counseling Techniques.
Boston: Allyn And Bacon.
Mappiare, Andi. (1982). Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional.